I am moving!

Halo para pembaca wordpress.com saya. Setelah sekian lama berkutat dengan akun muhammadmanaf.wordpress.com akhirnya saya memutuskan untuk pindah menggunakan domain dan hosting sendiri (meski masih memakai fasilitas wordpress.org).

This is my new website.

https://www.muhammadmanaf.com/

Jadi pastikan kalian mampir kesana, karena saya sudah menulis banyak tentang pengalaman saya yang saya harap mampu menginspirasi atau menjadi pelajaran bagi teman-teman pembaca semuanya. I’m waiting for you at muhammadmanaf.com

Advertisements

Wisuda Maret 2018


Congratulations to all my friends who graduated this month! Usaha kalian gak bakalan sia-sia berjuang lebih dari 4 tahun dari tahun 2013 sampai tahun ini. Selamat buat teman-teman jurusan dari Teknobiomedik angkatan 2013. You guys are amazing! Semoga kita semua bisa conquer the world ya!

Teman-teman aku dari UKM Unair, Aim dan Nabria! Selamat atas kesuksesan kalian! Terimakasih sudah menjadi partner untuk belajar dan bermain selama di universitas. Buat teman-teman KKN Keluarga Congkak, jangan sampai pertemanan dari KKN hanya berhenti disini. Kalian paling kece diantara KKN yang lain dan paling seru.

Semoga kita semua bisa membangun almamater bersama, jangan sampai setelah lulus nanti kita tidak saling sapa. Jadikan wisuda ini pintu untuk kesuksesan maisng-masing dan mari kita bersama membangun bangsa sesuai passion dan minat kita dan juga sesuai kemampuan kita.

Tanah Surga katanya, Surga Sampah kata saya

Sampah ada dimana-mana. Baik itu di hutan, di laut. Sepertinya Indonesia ini sudah terkukung sampah. Berita liputan 6 menyebutkan bahwa produksi smapah Indonesia setiap tahunnya adalah 64 juta ton. Itu kalau dibagi bagi Surabaya kayaknya penuh dengan sampah. Sedih kalau ngelihat sampah ada dimana dan kita bingung dengan apa yang bisa dilakukan.

Bulan Oktober kemarin saya ikutan Ekspedisi Nusantara Jaya di Pulau Mandangin, Pulau Masakambing, dan Pulau Masalembu. Ketiga pulau ini masih masuk provinsi Jawa Timur, namun semuanya termasuk kedalam jajaran daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Kondisi pulau-pulau tersebut sangat jauh berbeda dengan apa yang ada di Pulau Jawa.

Kami hadir di Pulau Mandangin

Permasalahan yang belum menjadi fokus namun sangat sulit diperbaiki adalah masalah sampah. Warga masyarakat disana memanfaatkan laut sebagai tempat pembuangan sampah tak terbatas. Sampah organik dan anorganik dibuang semua ke lautan biru. Setiap pagi, akan ada orang ke laut untuk membuang sampah mereka. Baik itu sampah dari perut maupun sampah plastik bekas konsumsi mereka.

Bayangkan saja pantai pasir putih yang bersih dihiasi bukan oleh kerang, namun sampah plastik. Lautan biru di pinggir pantai yang bisa dipakai untuk berenang berselam sampah plastik yang mencekik ikan-ikan.  Saya melihatnya itu sangat sedih dan frustasi.

Sampah plastik dan pakaian menghias pantai Mandangin

Dari sumber yang saya baca (klik disini). Sampah plastik baru bisa terurai setelah 20 tahun. Kalau di air bahkan bisa lebih lama lagi. Menurut riset Jenna R Jambeck (2015), Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik kedua ke laut setelah Cina. Hal ini tak mengherankan mengingat satu orang di Indoensia bisa menghasilkan 700 kantong sampah plastik dalam setahun. Sehingga tak mengherankan pantai dan laut kita sudah menjadi kandang sampah.

Sampah ini sangat berbahaya bagi ekosistem laut. Penyu tidak punya ruang bertelur, ikan tidak ada ruang untuk berenang. Ikan tak sengaja makan plastik yang bisa berakibat fatal. Koral kita juga bisa rusak.

Aksi kecil kami membersihkan Pantai Mandangin

Lalu solusinya bagaimana? Kuncinya ada pada kesadaran. Kita sadar untuk tidak buang sampah ke laut, kita sadar untuk membuang sampah pada tempatnya, kita sadar untuk mengolah sampah kita, kita sadar untuk mengurangi penggunaan plastik kita. Tantangan utamanya bukanlah beraksi, membersihkan sampah atau membangun tempat pengolahan. Tantangan utama adalah bagaimana masyarakat bisa sadar dan bergerak untuk melindungi lingkungannya, dimulai dari diri sendiri dahulu untuk melindungi surga kita, Indonesia.

 

Pengalaman Pahit dengan Uber

This morning I woke up and open my email. After that, I read the Uber receipt that Uber sent me after I used their service last evening. I read it carefully and then, BAM! THE DRIVER CHEATED ON ME about the fare. I wondered last night. How come the price is too expensive, like two times journey. Now I know why this is happened.

So last evening I and my KKN friend want to have farewell dinner with my friend from Spain, Gerard that will flying back to his home country this Saturday. It was raining all evening, so Gojek was not an option. I tried Uber since I never use it on my own. I ordered it and then I waited, waited for the driver to call me. He sent me message to tell me that he is on the way.  Little did I know that he is literally counting the fare from his starting point. I called him asking for his positions. He told me he didn’t know the place that I was referring to. I sent him messages. After 25 minutes frustrated, he finally came apoligizing, “Sorry, I didn’t know the place, the map said differently. I originally from Sidoarjo so I’m not familiar with this place”. I just told him let’s drive while not trying to be angry. After 15 minutes journey, I arrived in the restaurant and asked the driver how much does it cost. He said 36.500 rupiah. OMG! SO EXPENSIVE. I could buy 4 gado-gado with 2 kerupuk. I was in hurry so I gave the money to the driver, saying thanks and finished.

However, this strange and unfortunate experience makes me wondering all night. Especially after the Grab-car driver told me that sometimes the Uber driver cheated by starting their fare before the passenger in the car. My suspicion is confirmed when I received the Uber receipt in my email.

I will post my receipt in here so you can compare it to the ‘right trip map’.

uberkacau

You can see above that the route is chaos. The driver seems driving around aimlessly. Moreover, he didn’t try to call me asking for direction. I called him. That was so bad of him.

rute-asli

This map is the right route or the supposed route that the driver should use. He should start his fare on Universitas Airlangga, not in Jalan Dharmahusada Permai, which is in front of Airlangga Hospital and drove to the north almost to Kenjeran and then went back.

I am so disappointed by this driver. I waited for 25 minutes for him and then he cheated on me about the fare. I hope the Uber could solve this problem of mine. If you have similar experience, please share it with me.