Anteroseptal Myocardial Damage

Saya baru saja praktikum ECG dan beberapa kasus menunjukkan adanya anteroseptal myocardial damage. Wah, apa itu?

 

Apa itu?

An anteroseptal infarction is a heart problem where part of the heart muscle dies and scars due to poor blood supply. In this case, the tissue damage is centered around the anteroseptal wall, the area between the left and right ventricles. This can be dangerous for the patient, and it is necessary to receive treatment to address the cause of the tissue death and prevent additional damage.

This condition usually occurs as a result of a partial blockage along one of the branches of the left anterior descending (LAD) artery. When the whole artery is blocked, it can cause an acute myocardial infarction, where more of the heart is deprived of blood. In the case of lesser blockages, a limited infarction can occur in a more specific region, like the anteroseptal wall. A patient with an anteroseptal infarction may not get enough blood to the rest of the body and can experience pain, pressure, and discomfort in the chest.

Patients with chest pain typically receive an evaluation with an electrocardiograph machine to look at electrical activity in the heart. If something is irregular, information from the test will show the medical professional where the problem is situated. He or she uses a number of leads andelectrodes to get a complete picture of the heart. This type of infarction tends to be detectable on the first through fourth ventricular leads, and it will be readily visible to a doctor or technician reading the test and can help care providers decide how to move forward with treatment.

Sometimes, a medical professional may identify an old anteroseptal infarction. In this case, the patient experienced damage in the past but did not receive treatment for it, or did but the damage was permanent. This area of the heart muscle will not be as mobile and could contribute to irregularities in the patient’s heartbeat and circulation. Other tests will show evidence of an acute infarction, which means that damage is ongoing and the patient needs treatment to stop it.

Treatment for this problem can involve medications to stimulate the heart along with procedures to address blockages and clogged arteries. The patient may need surgery to bypass a completely blocked section of artery or a stent to allow the blood can flow freely. Treatment may also involve adjustments to the patient’s diet to prevent future problems. Activities like increasing physical activity levels or controlling blood pressure more effectively may also be recommended for prevention of another anteroseptal infarction.

 

BUT, saya sedang flu, yang bisa saja berakibat terhadap hasil dari ECG. Saya percaya saya ini sehat-sehat saja.

Percakapan Dini Hari

Ditengah deraian kopi dan susu anget pada Sabtu dini hari kami berempat yang beralmamater sama berbincang riang tentang kehidupan sehabis asrama. Bagaimana si anak ini berubah, makin sombong. Reputasi rusak karena bohong. Makin mantap leadership nya, si anak yang kuliah terbebani karena jiwanya pergi, dan berbagai berita lain seperti si anak ini yang hobinya minum alkohol dan kuat karena dia anak Pajak, tahu takaran yang pas bagaimana Vodka itu harusnya diteguk.

Saya sebagai mahasiswa ingusan yang hidupnya dihabiskan di kampus, organisasi AIESEC, UKM, dan asrama pun hanya melongo mendengar itu semua. Bagaimana tidak, sebagai mahasiswa di kampus Excellence with Morality mendengar mabuk-mabukan terutama dari teman sendiri itu sesuatu yang absurd, tidak bisa saya cerna. Apalagi saya tahu dia dulu di SMA seperti apa. Teman saya dengan bijaknya berkata, “Hati-hati, semakin kamu wujud asli seseorang belum tentu kamu bakal makin suka”. Saya yang jiwa optimis sejati hanya berharap itu hanyalah fase evolusi mereka menuju kedewasaan.

Banyak hal-hal yang kami omongkan di angkringan dini hari itu. Tentang bagaimana dulu kita dididik dengan slogal “Learn Today, Lead Tomorrow” dan berbagai macam bekal untuk menjadi pribadi unggulan di dunia orang dewasa. Community Service, Entrepreneurship dengan adanya YEP, Leadership dengan 7 Habbits, Leadership Camp, Pathway to Success dan berbagai macam mentoring yang bagi mahasiswa lain adalah luxury.

Apa yang sudah dididik oleh sistem sekolah kami dulu harusnya bisa menjadikan kami sekarang ini pada tingkat implementatif nilai-nilai yang sudah diajarkan. Namun nyatanya, ketika kami lulus kami bagaikan macan yang lepas kandang. Masing-masing dari kami ingin show up, “Ini SAYA! Lihat SAYA! Saya sudah seperti ini!”. Itu adalah seakan yang dilakukan oleh kebanyakan lulusan dari sekolah kami dulu. Disatu sisi, sifat itu bagus untuk bekal nanti ketika kita kerja, namun ada nilai yang terlupakan. Social responsibility dalam bentuk social activity yang bisa diwujudkan dengan cara community service. Mengajar anak-anak jalanan, mengimplementasikan apa yang sudah kita pelajari di bangku kuliah. Nilai ini yang sepertinya terkikis.

Tak heran, dari pihak YPS pun mengumpulkan kami kembali untuk ditanyai hal yang sama. Kalian punya kekuatan. Kalian punya value yang beda dibandingkan teman kalian di bangku kuliah. Kalian sudah ngapain aja? Apa yang sudah kalian lakukan buat masyarakat? Kalian harusnya bisa bersatu, tanpa membedakan angkatan dan asal daerah untuk melakukan bigger thing. Berbakti kepada masyakarat. Giving back to the society.

Saya cermati, untuk melakukan hal tersebut yang harus dilakukan pertama kali adalah mempererat jalinan pertemanan. Siapapun yang nanti menjadi ketua SAA harus bisa merangkul semua kalangan sehingga semua elemen merasa memiliki dan merasa tergerak hatinya untuk melakukan apa yang menjadi visi organisasi itu. Isu yang diangkat pun harus menjadi perhatian pribadi anak itu. Contohnya saja, saya ingin Community Service yang berkaitan dengan energi. Maka ketika ada kegiatan itu saya yang akan dengan senang hati datang setiap hari untuk melaksanakannya.

Setelah pembicaraan dengan 3 teman saya itu saya yakin sekali kami itu bisa melakukan apa yang seharusnya kita lakukan sejak dulu. Menjadi pribadi kami seperti di SMA dulu yang memiliki visi baik. Jangan sampai masa-masa SMA itu menjadi tinggal kenangan. Saya yakin kami bisa memberikan kontribusi lebih kepada Indonesia.