Hukuman Mati dan Narkoba

Setelah KAA berkahir tgl 24 April kemarin, muncul kembali isu hukuman mati drug convicts yang berasal dari berbagai negara. Jujur, saya sudah sedikit lupa dengan kasus ini karena sepertinya pernah hot sebulan yang lau kemudian hilang. Tidak ada berita ttg kelanjutan hukuman mati bagi mereka. Kalau seumpama saya menjadi mereka (drug convicts dengan hukuman mati), saya akan frustasi. Lebih baik tahu sekalian kapan akan mati daripada terus berharap akan ada keajaiban bahwa kita bisa hidup lebih lama. Sorry, I’m blubbering.

Narapidana narkoba yang dihukum matiĀ berasal dari negara Perancis, Australia, Filipina, Ghana, Nigeria, dan Indonesia. 9 dari 10 pelaku jadwal hukuman mati mereka sudah keluar, sedangkan 1 pelaku yang dari Perancis berhasil menunda hukuman mati mereka.

Banyak negara yang sudah memohon kepada Indonesia agar mereka tidak dihukum mati. Namun Jokowi tetap keukeuh bahwa keputusannya untuk menghukum mati mereka sudah final. Bahkan, dia sudah tidak mau menjawab permohonan dari president Perancis. Hukuman mati itu nantinya akan dilaksanakan maksimal hari Selasa ini.

Jujur, saya tidak tahu posisi mana yang harus saya ambil. Karena saya cintaa damai dan tidak suka melihat orang dihukum mati tanpa memberikan kesempatan kedua atau hukuman lain yang setimpal. Karena there are many thing worst than death. Ada banyak hal yang lebih buruk daripada kematian.

Kalau sendainya saya yang menghukum mereka, akan saya lihat dulu seberapa besar kesalahan mereka. Jika memang cukup besar dan layak untuk dihukum, maka akan saya hukum dengan hukuman seumur hidup daripada dihukum mati. Bayangkan dihukum seumur hidup di negeri orang dengan masuk sel isolasi hampir setiap waktu akan cukup membuat dia gila (dari persekif saya). Dia tidak ada teman bicara kan? Memang mereka bisa bahasa Indonesia. Dia juga mendapatkan limitation kunjungan dari keluarga 1 bulan sekali. Kalau tidak seperti itu, mereka hukumannya diperingan jika mereka mau memberikan nama-nama pelaku narkoba lain di jaringan dia.

Hukuman mati bukan harus menjadi tahap untuk menghentikan aliran narkoba di Indonesia. Ada banyak hal yang lebih mendesak seperti pemberantasan korupsi yang hukumannya harus dipertegas lagi. Kalau menurut saya, saya lebih setuju pelaku korupsi dihukum mati dibanding pelaku narkoba. Karena kalau pelaku narkoba konsumenya kan sadar kalau mereka membeli narkoba. Tidak ada yang memaksa dia untuk memakai narkoba. Namun kalau koruptor dengan wajah innocent nya mereka merampok rakyat kecil hingga triliyunan rupiah.

Kesimpulan saya, 10 orang pelaku narkoba itu harusnya diperlakukan perseorangan. Harus ada tindakan khusus untuk setiap convicts. Pastinya kan ada yang benar-benar menyesal, ada yang biasa saja. Ada yg mau kooperatif dengan usaha Indonesia membasmi narkoba. Istilahnya ada banyak hal yang bisa ditukar agar hidup 10 orang pelaku itu bisa diselamatkan. Tapi who knows seberapa berat kah kesalahan mereka. Saya sendiri belum melakukan riset secara mendalam. Mungkin hal ini bisa saya gunakan untuk tugas makalah Filsafat.

Advertisements