Cerita dibalik Kata Part 1

You know, I’ve been thinking about creating a business that promote sustainability in fashion industry. I know it’s random and not related to my major or what so ever. But, since I was a child I want to be environmentalist. That’s why, since I got my diploma already I want to pursue my hidden dream.

Semuanya berawal dari kenginan aku untuk membantu masyarakat Indonesia. Apa yang dibutuhkan oleh negaraku ini? Apa yang bisa aku lakukan? Sejak tahun 2015 saya sudah berpikir seperti ini. Makanya dulu sempat pengen pindah ke energi terbarukan (hehehe). Tapi saya sadar, my math skills is not exceptional and it will be difficult for me to impose myself. Pokoknya yang aku tahu aku ini kreatif dan gampang banget buat bikin sesuatu yang menurut temen aku sulit.

Setelah berpikir lama mau bikin apa, aku pengen bikin noragi (outwear khas Jepang) dengan bahan kain tenun ikat Indonesia. Setelah cek harga dan sebagainya, waah. Gak punya duit (gue anak scholarship maan, and I have student loan to pay too). Satu kain tenun saja harus dibeli 250rb rupiah, hanya bisa jadi satu baju kalau full tenun. Akhirnya setelah keinginan ini ada dan dilakukan riset keuangan, aku gak bisa (mungkin nanti).

Setelah itu aku mikir, kayaknya bikin noragi aja tapi dibatik sendiri dan diwarna sendiri. Hmm, sounds good idea. Akhirnya duit hadiah PIMNAS 30 kemarin aku pakai buat beli kain, bahan batik, pewarna alam, dan perlengkapan lain untuk usaha. (lebih lengkapnya nanti aku ceritain lagi).

Semuanya beres, tinggal milih metode bisnis. Dari dulu aku pengen bisnis berbasis sosial atau social entrepreneur . Akhirnya baca bukunya Start Something that Matters oleh Blake Mycoskie. Konsep bisnis dia adalah setiap menjual satu sepatu, maka dia akan menyumbang satu sepatu untuk anak yang membutuhkan. Wow! Aku nangis waktu baca bab diawal dimana dia ngasih sepatu ke anak-anak. (Literally recommended banget buat dibaca).

Akhirnya milih setiap penjualan satu baju, akan aku tanam satu pohon. Kayaknya sudah cukup deh. Gak perlu banyak-banyak. Then, I did my research again. Ternyata ada perusahaan pakaian yang namanya TENTREE, yakni berkonsep setiap satu item yang kamu beli, dia bakalan menanam 10 pohon. Gila gila! Why I juts found this information is beyond me.

Aku mikir lagi, hmm. Kalau 1 pakaian menanam 10 tanaman, aku gak mungkin bisa. Secara perhitungan gak nutup modal nanti dan aku juga masih ngelakuinnya sendiri. Apalagi punyaku ini lebih ke high end fashion, bukan pakaian umum seperti sweater, hoodie, dsb nya. Akhirnya aku mutusin untuk memilih aku bakal menanam 3 pohon setiap pembelian produk dari aku. Reasonable dan tiga lebih filosofis dibandingkan hanya satu saja. Tiga itu melambangkan, satu untuk kamu, satu untuk bumi, satu untuk makhluk lain (bisa hewan, atau jadi sacrifice lah). Intinya satu dari tiga tanaman yang ditanam pasti hidup.

Selain itu, alasanku adalah. Produk yang aku jual nanti harganya tidak akan mahal-mahal amat. Berkisar 50-350rb. Sedangkan tentree harganya dari 20-70 dollar. So pricey right? And they’ve been doing it longer. Harga tanaman di Indonesia paling murah dan rata-rata adalah 5000 rupiah per pohon. Jasa menanam, pupuk, dan peralatan lain akhirnya pertanaman bisa satu 15rb lah minimal perawatannya. Kalau tiga tanaman, harus 45rb. Makanya, secara realistis satu produk bisa menyumbang tiga tanaman.

Aku seneng banget akhirnya konsepnya sudah matang. Sudah tahu pesaingnya di Indonesia siapa saja. Tapi punyaku memiliki movement ini, yang tidak dimiliki oleh bisnis lain. So, aku berharap banget ini bisa berjalan dan aku bisa meraih mimpi aku.

Advertisements

Kecewa

Ada kekecewaan yang memendam

dalam keheningan malam

merayap turun

berdetak

tak

tak

Tak usah risau

biarkan kau merasa

biarkan dirimu menangis karenanya

biarkan kau tahu

bahwa

kau hidup dan menggenggam jiwa

The Result is OUT

Setelah nunggu lebih dari sebulan, akhirnya lomba blog dari Universitas Airlangga sudah keluar hasilnya. Sayang banget gak bisa juara, padahal awalnya optimis. Tapi ternyata hasilnya undian, kecewa banget sama panitia. Baru tahu kali ini lombanya undian. Apalagi aku cuma ngumpulin satu artikel doang.

pemenang

On sunny day December 23, I read an email from BPP Universitas Airlangga telling me that the result for blogging competition is out already and my submission have been approved and I got a voucher that can be used for accessing the winner link. Then I click the link on the email but nothing came out. Then I decided to go to BPP Office. I asked confirmation from the committee and then they say that we were still in the judging process. He gave me a little bit the winner characteristic and I was disappointed to hear that the winner is chosen based on his/her luckiness. The voucher that the committee gave us to our email actually our lottery number. The committee chose 6 out of 100 voucher randomly and then they will assess their content and etc. Finally, 6 winners will be selected 3 for students and 3 for public. I just nod to his explanation and went back to my dorm after that.

That night, the result came out and unfortunately, the committee decided to publish the voucher, not the link of the winners blog. I am really curious why they decided to do this. This is not fair, as a participant myself, I want to know who are the winners. Are their writing good? We want to see and read their blog too. So, unless the winners also the committee, that’s why they probably did this. However, you can read the announcement in here.