I sold my violin

Today I sold my violin. I am kind of sad right now because I no longer can play a violin whenever I wished. However, I I think it’s time to let my baby go. I have several reasons for this, but mostly financial difficulties is the top of the list.

I’ve been strained financially for several months now due to my unemployed status/job seeker/master degree seeker. It means I have no income. For several of you, probably you still get the money from your parents. However, my family is poor so I can not ask them to send me money, that will be unfair. I am grown up now, and I should take a responsibility for my action only. That’s why I sold one of my asset.

Since I graduate last year, I rarely play my violin and it’s a bit unfair because a musical instrument should be played regularly. That’s why I put an ad on the OLX and sell my violin.

All this money that I gathered will be used for my education and living cost. I really wanted to pursue my master degree. That’s why I need to start being stingy and saving more money. I know it’s hard since I don’t have other resources. Nonetheless, I believe that God will also take care of me.

Advertisements

INOVASI dan PROBLEM Netizen Indonesia

Ketika membuka grup line PIMNAS 2017, saya dikejutkan dengan berita heboh lagi yang sebenarnya sudah lama. Jadi ceritanya begini, adik kelas saya membuat suatu karya ilmiah tentang pembangkit listrik berkonsep free energy dan zero emission dari magnet. Sayangnya, banyak yang salah kaprah dengan karya dia sehingga mengatakan bahwa karya dia ini menyalahi hukum termodinamika lah, salah lah. Gak mungkin lah. Bodoh lah yang bikin. Hingga almamater saya disebut-sebut gak becus mendidik mahasiswa. Parahnya lagi, juri PIMNAS juga diolok-olok karena bisa-bisanya meloloskan karya “sefenomenal” ini.

Karena selama kuliah saya lebih berkutat ke nanomaterial dan tissue engineering, saya kurang paham dengan karya adek kelas ini. Tapi setelah ditelusuri yang mereka buat itu adalah magnetic motor yang mengubah energi kinetik menjadi listrik kemudian karena magnet atau gaya lain menghasilkan outputnya yang lebih besar. Nah, dari sinilah banyak yang bertanya karena secara hukum termodinamika 1 tidak mungkin. Tapi dari data mereka tegangan input dan putput beneran beda. Outputnya lebih besar dibandingkan inputan. Saya kurang paham caranya bagaimana, tapi dari penjelasan si anak ini disebut free energy dan zero emission. Free energy karena jika hal ini benar-benar dilakukan, harga listrik akan lebih murah dan elektrifikasi di Indonesia akan merata, tidak tergantung pada PLN. Zero emission karena sebenarnya emisi GHG nya akan sangat rendah. Tentunya kalau alat ini berhasil dibuat dan dipasarkan, sayangnya lagi. Masih banyak dilakukan penelitian mengenai konsep ini.. Karya yang serupa bisa dilihat disini.

Sayangnya lagi, netizen ini savage banget. Langsung olok-olok bahwa ini tidak mungkin. Saya akui, jika baca sekilas judul mereka rasanya nggak mungkin. Tapi kalau sudah baca ISI dari karya mereka itu masuk akal. Buktinya, alat mereka bekerja, meski saya tidak tahu apakah benar nilai outputnya lebih tinggi atau tidak.

Parahnya itu komentar yang dilontarkan tidak membangun sama sekali. Ikut saja mencela tanpa ada klarifikasi. Sehingga saya sebagai senior marah dan kesal dengan netizen ini. Tidak bisakah dijadikan topik ilmiah untuk didiskusikan? Baca jurnal kembali?

Netizen kita lebih suka mengolok-ngolok daripada berkarya sepertinya. Jadi ingat kasus delegasi debat Indonesia yang dikomentari pakaiannya. Para tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang berkomentar itu sudah menyumbang apa memangnya ke Indonesia? Sudah menyumbang apa ke almamater? Desa? Paling cuma ikut menyumbang angka konsumerisme.

Jadi, kalau ada isu heboh viral seperti ini, jangan langsung reaktif (Apalagi yang berkaitan dengan dunia ilmiah). Be proactive, hubungi sang inovator. Tanya dan diskusi, bagaimana karya ini bisa dijadikan kenyataan. Kamu gak setuju, siapkan counter-argument yang ilmiah, yang terdidik. Bukan asal bikin komen di line, instagram, atau facebook. Ini adalah contoh yang bagus (KLIK DISINI)

 

http://news.unair.ac.id/2017/07/17/mahasiswa-unair-ciptakan-pembangkit-listrik-free-energy-zero-emission-dan-portable/

Walk on Less Traveled Road

I just watched Erik vlog while he was in Bali last February. In his last minute video, there is a part when he had conversation with another tourist and they talked about destiny. The stranger told that to find our own destiny is to find less traveled road to walk. Ask yourself want do you want, what do you want to to? Don’t just follow a path that has been cleared for you. Try something new, find your own niche.

I’ve been thinking about this since 2015 and I think this vlog convince me to follow my crazy dream. I just need to help myself to stop being lazy and just have do it attitude.

Tanah Surga katanya, Surga Sampah kata saya

Sampah ada dimana-mana. Baik itu di hutan, di laut. Sepertinya Indonesia ini sudah terkukung sampah. Berita liputan 6 menyebutkan bahwa produksi smapah Indonesia setiap tahunnya adalah 64 juta ton. Itu kalau dibagi bagi Surabaya kayaknya penuh dengan sampah. Sedih kalau ngelihat sampah ada dimana dan kita bingung dengan apa yang bisa dilakukan.

Bulan Oktober kemarin saya ikutan Ekspedisi Nusantara Jaya di Pulau Mandangin, Pulau Masakambing, dan Pulau Masalembu. Ketiga pulau ini masih masuk provinsi Jawa Timur, namun semuanya termasuk kedalam jajaran daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Kondisi pulau-pulau tersebut sangat jauh berbeda dengan apa yang ada di Pulau Jawa.

Kami hadir di Pulau Mandangin

Permasalahan yang belum menjadi fokus namun sangat sulit diperbaiki adalah masalah sampah. Warga masyarakat disana memanfaatkan laut sebagai tempat pembuangan sampah tak terbatas. Sampah organik dan anorganik dibuang semua ke lautan biru. Setiap pagi, akan ada orang ke laut untuk membuang sampah mereka. Baik itu sampah dari perut maupun sampah plastik bekas konsumsi mereka.

Bayangkan saja pantai pasir putih yang bersih dihiasi bukan oleh kerang, namun sampah plastik. Lautan biru di pinggir pantai yang bisa dipakai untuk berenang berselam sampah plastik yang mencekik ikan-ikan.  Saya melihatnya itu sangat sedih dan frustasi.

Sampah plastik dan pakaian menghias pantai Mandangin

Dari sumber yang saya baca (klik disini). Sampah plastik baru bisa terurai setelah 20 tahun. Kalau di air bahkan bisa lebih lama lagi. Menurut riset Jenna R Jambeck (2015), Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik kedua ke laut setelah Cina. Hal ini tak mengherankan mengingat satu orang di Indoensia bisa menghasilkan 700 kantong sampah plastik dalam setahun. Sehingga tak mengherankan pantai dan laut kita sudah menjadi kandang sampah.

Sampah ini sangat berbahaya bagi ekosistem laut. Penyu tidak punya ruang bertelur, ikan tidak ada ruang untuk berenang. Ikan tak sengaja makan plastik yang bisa berakibat fatal. Koral kita juga bisa rusak.

Aksi kecil kami membersihkan Pantai Mandangin

Lalu solusinya bagaimana? Kuncinya ada pada kesadaran. Kita sadar untuk tidak buang sampah ke laut, kita sadar untuk membuang sampah pada tempatnya, kita sadar untuk mengolah sampah kita, kita sadar untuk mengurangi penggunaan plastik kita. Tantangan utamanya bukanlah beraksi, membersihkan sampah atau membangun tempat pengolahan. Tantangan utama adalah bagaimana masyarakat bisa sadar dan bergerak untuk melindungi lingkungannya, dimulai dari diri sendiri dahulu untuk melindungi surga kita, Indonesia.

 

Cerita dibalik Kata Part 1

You know, I’ve been thinking about creating a business that promote sustainability in fashion industry. I know it’s random and not related to my major or what so ever. But, since I was a child I want to be environmentalist. That’s why, since I got my diploma already I want to pursue my hidden dream.

Semuanya berawal dari kenginan aku untuk membantu masyarakat Indonesia. Apa yang dibutuhkan oleh negaraku ini? Apa yang bisa aku lakukan? Sejak tahun 2015 saya sudah berpikir seperti ini. Makanya dulu sempat pengen pindah ke energi terbarukan (hehehe). Tapi saya sadar, my math skills is not exceptional and it will be difficult for me to impose myself. Pokoknya yang aku tahu aku ini kreatif dan gampang banget buat bikin sesuatu yang menurut temen aku sulit.

Setelah berpikir lama mau bikin apa, aku pengen bikin noragi (outwear khas Jepang) dengan bahan kain tenun ikat Indonesia. Setelah cek harga dan sebagainya, waah. Gak punya duit (gue anak scholarship maan, and I have student loan to pay too). Satu kain tenun saja harus dibeli 250rb rupiah, hanya bisa jadi satu baju kalau full tenun. Akhirnya setelah keinginan ini ada dan dilakukan riset keuangan, aku gak bisa (mungkin nanti).

Setelah itu aku mikir, kayaknya bikin noragi aja tapi dibatik sendiri dan diwarna sendiri. Hmm, sounds good idea. Akhirnya duit hadiah PIMNAS 30 kemarin aku pakai buat beli kain, bahan batik, pewarna alam, dan perlengkapan lain untuk usaha. (lebih lengkapnya nanti aku ceritain lagi).

Semuanya beres, tinggal milih metode bisnis. Dari dulu aku pengen bisnis berbasis sosial atau social entrepreneur . Akhirnya baca bukunya Start Something that Matters oleh Blake Mycoskie. Konsep bisnis dia adalah setiap menjual satu sepatu, maka dia akan menyumbang satu sepatu untuk anak yang membutuhkan. Wow! Aku nangis waktu baca bab diawal dimana dia ngasih sepatu ke anak-anak. (Literally recommended banget buat dibaca).

Akhirnya milih setiap penjualan satu baju, akan aku tanam satu pohon. Kayaknya sudah cukup deh. Gak perlu banyak-banyak. Then, I did my research again. Ternyata ada perusahaan pakaian yang namanya TENTREE, yakni berkonsep setiap satu item yang kamu beli, dia bakalan menanam 10 pohon. Gila gila! Why I juts found this information is beyond me.

Aku mikir lagi, hmm. Kalau 1 pakaian menanam 10 tanaman, aku gak mungkin bisa. Secara perhitungan gak nutup modal nanti dan aku juga masih ngelakuinnya sendiri. Apalagi punyaku ini lebih ke high end fashion, bukan pakaian umum seperti sweater, hoodie, dsb nya. Akhirnya aku mutusin untuk memilih aku bakal menanam 3 pohon setiap pembelian produk dari aku. Reasonable dan tiga lebih filosofis dibandingkan hanya satu saja. Tiga itu melambangkan, satu untuk kamu, satu untuk bumi, satu untuk makhluk lain (bisa hewan, atau jadi sacrifice lah). Intinya satu dari tiga tanaman yang ditanam pasti hidup.

Selain itu, alasanku adalah. Produk yang aku jual nanti harganya tidak akan mahal-mahal amat. Berkisar 50-350rb. Sedangkan tentree harganya dari 20-70 dollar. So pricey right? And they’ve been doing it longer. Harga tanaman di Indonesia paling murah dan rata-rata adalah 5000 rupiah per pohon. Jasa menanam, pupuk, dan peralatan lain akhirnya pertanaman bisa satu 15rb lah minimal perawatannya. Kalau tiga tanaman, harus 45rb. Makanya, secara realistis satu produk bisa menyumbang tiga tanaman.

Aku seneng banget akhirnya konsepnya sudah matang. Sudah tahu pesaingnya di Indonesia siapa saja. Tapi punyaku memiliki movement ini, yang tidak dimiliki oleh bisnis lain. So, aku berharap banget ini bisa berjalan dan aku bisa meraih mimpi aku.

Kecewa

Ada kekecewaan yang memendam

dalam keheningan malam

merayap turun

berdetak

tak

tak

Tak usah risau

biarkan kau merasa

biarkan dirimu menangis karenanya

biarkan kau tahu

bahwa

kau hidup dan menggenggam jiwa