I am moving!

Halo para pembaca wordpress.com saya. Setelah sekian lama berkutat dengan akun muhammadmanaf.wordpress.com akhirnya saya memutuskan untuk pindah menggunakan domain dan hosting sendiri (meski masih memakai fasilitas wordpress.org).

This is my new website.

https://www.muhammadmanaf.com/

Jadi pastikan kalian mampir kesana, karena saya sudah menulis banyak tentang pengalaman saya yang saya harap mampu menginspirasi atau menjadi pelajaran bagi teman-teman pembaca semuanya. I’m waiting for you at muhammadmanaf.com

Advertisements

Wisuda Maret 2018


Congratulations to all my friends who graduated this month! Usaha kalian gak bakalan sia-sia berjuang lebih dari 4 tahun dari tahun 2013 sampai tahun ini. Selamat buat teman-teman jurusan dari Teknobiomedik angkatan 2013. You guys are amazing! Semoga kita semua bisa conquer the world ya!

Teman-teman aku dari UKM Unair, Aim dan Nabria! Selamat atas kesuksesan kalian! Terimakasih sudah menjadi partner untuk belajar dan bermain selama di universitas. Buat teman-teman KKN Keluarga Congkak, jangan sampai pertemanan dari KKN hanya berhenti disini. Kalian paling kece diantara KKN yang lain dan paling seru.

Semoga kita semua bisa membangun almamater bersama, jangan sampai setelah lulus nanti kita tidak saling sapa. Jadikan wisuda ini pintu untuk kesuksesan maisng-masing dan mari kita bersama membangun bangsa sesuai passion dan minat kita dan juga sesuai kemampuan kita.

Growing Growth Mindset

Teman-teman dari bidang seni ku selalu bilang harusnya kamu ambil seni saja Manaf. Harusnya kamu ambil jurusan komunikasi saja Manaf. Harusnya kamu ambil ilmu sosial saja Manaf. Sedangkan teman-teman dari jurusan pasti bilang, kamu cocok jadi dosen. Ambil S2 apa Naf, tetep Biomaterial? Tissue Engineering?

Ketika aku pikir baik-baik, pertanyaan ini seperti menanyakan sebenernya aku ini siapa sih? Bidangku ini apa? Kalau di dunia social science aku juga tidak memiliki pendidikan formal, sedangkan di bidang teknik secara akademis saya bukan genius juga. Jawabannya adalah saya ingin menjadi bridging antara dua bidang ini. Anak-anak sosial sering bilang kalau anak teknik atau sains terlau teoritik dan kurang aksi. Anak-anak teknik bilang kalau anak-anak sosial kebanyakan omong dan tidak tepat sasaran. Dua hal yang berbeda ini patut untuk diselaraskan untuk membentuk negara ini lebih baik.

Kembali lagi ke pilihan aku. Dari dulu, orang memang selalu menyarankan agar aku ambil bidang sosial. Sejujurnya, saya bingung kalau mau mabil bidang sosial itu bidang apa. Aku tidak tahu harus mengambil apa. Sedangkan jika aku mengambil bidang IPA, aku tahu aku suka melakukan penelitian. Sehingga aku memutuskan untuk berkarir di bidang IPA.

Berkarir di bidang ini bukannya sulit? Banget. Aku memiliki kelemahan di matematika dan hitung-hitungan secara teoritis. Aku pernah mendapatkan nilai D di kalkulus. Nilai matematika aku waktu UNAS juga jelek. Sekitar 65-70 (aku sejujurnya lupa). Namun, di bidang-bidang alam seperti biologi dan lain sebagainya nilai aku lumayan bagus.

Melihat hal ini aku juga mulai berpikir. Sepertinya nilai buruk ku di bidang matematika ini karena memang otak saya sudah cenderung berkata tidak bisa. Padahal, di bidang Fisika dan lain lain nilai aku masih bisa minimal B (cukup). Ketika aku tanyakan pada diri sendiri, sebenarnya otak ku yang berkata aku tidak bisa. Ini sulit banget. Pusing aku mikirnya. Padahal, dengan menyelesaikan masalah itu otak kita bisa berkembang.

Setelah menonton video dari TED oleh Carol Dweck ini membuat aku berpikir kembali tentang masa kuliah-kuliah dulu. Nilai-nilai saya yang kurang memuaskan itu bisa saja hasil dari kurangnya kerja keras dan growth mindset. Apappun masalahnya, tabrak dengan positivitas. Sayangnya, ketika menghadapi soal sulit atau masalah sulit otak aku ini langsung tanya, “what to do now? Oh sh*t, gue lupa caranya”. Ini masalah yang sering terjadi ketika aku mabil mata kuliah teknik.

Karena aku tidak mungkin bisa kembali ke masa lalu dan merubah semuanya, aku harus mulai dari sekarang. Mengingat aku juga akan mengambil gelar master di bidang teknik juga, growth mindset harus benar-benar aku tanamkan. Instead of saying I can’t, I have to start saying I haven’t got it YET. Instead of saying I failed, I have to start saying I’m learning. Harus berpikir positif terhadap diri sendiri dan bekerja keras. I love new challenge instead of shivering in fear of failure.

Resolusi 2018: Mulai menumbuhkan GROWTH MINDSET.

Foto Keren Gratis Berkualitas di Internet

Bagi teman-teman yang suka desain, pasti pengen nemu stok foto-foto bagus di internet. Nah, di intrenet ternyata da banyak banget foto-foto gratis yang bisa kamu gunakan secara bebas, artinya kamu tidak perlu membayar ke pemiliknya. Cukup cantumkan kredit foto saja sudah cukup.

Website favorit aku adalah unsplash, karena gambarnya bagus-bagus dan fotonya banyak banget. Ada juga negativespace yg mirip-mirip dengan unsplash. Karena aku males nulis ya, langsung aja kamu ke website ini karena dia sudah compile mana-mana saja yang bagus dan aku sudah cek satu-satu. Ternyata selama ini aku cuma kenal unsplash doang, padahal ada banyak yang lebih bagus dan menarik.

https://blog.hubspot.com/marketing/free-stock-photos

Dua Minggu Bekerja di Start Up.

Saya memiliki pengalaman bekerja paling singkat. Yakni bekerja di start up bernama X, suatu start up baru di Surabaya yang berfokus sebagai community network dan juga platform untuk komunitas. Awalnya saya ditawari untuk bekerja disana lewat WA, mengingat saya memiliki potensi dan sepertinya cocok dengan bidang yang saya lakukan. Akhirnya saya berkata “YES, I am IN”. Sekalian belajar budaya start up dan juga bagaimana kiranya membuat satu hal seperti itu.

Ada banyak hal yang saya tanyakan tentang usaha ini. Saya mengerti WHY start up ini muncul. Karena banyak komunitas dan juga organisasi di Surabaya yang berjalan sendiri-sendiri. Hanya menuntut namun tanpa aksi. Oleh karena itu, si Mbak nya ini membuat usaha seperti ini yang nantinya akan bergerak juga seperti kickstarter atau krowd.id. Menarik sekali dan saya semangat diawal awal.

Jabatan saya adalah Community Manager yang bertugas menghandle dan mencari komunitas yang bisa diajak bekerja sama pada tanggal 3-4 Februari 2018 kemarin untuk melakukan suatu charity dan temu komunitas. Akhirnya saya kontak komunitas-komunitas yang saya tahu di Surabaya. Saya desainkan proposal ke komunitas, saya usahakan feed instagram juga bagus sesuai dengan guideline yang anak desain bikinkan.

Sepertinya pekerjaannya menarik. Namun mengapa saya berhenti? Ada banyak hal yang perlu saya garis bawahi. Pertama-tama saya memang tidak ada kontrak. Inilah kebodohan pertama saya. Harusnya saat pertama kali setuju dengan pekerjaan, mintalah kontrak yang isinya menjelaskan apa pekerjaan kita, tugasnya apa saja, berapa jam setiap hari kita harus bekerja, berapa gaji kita, dsb nya. Karena saya belum pernah bekerja, saya menyepelekan hal ini dan saya pikir, nanti saja dulu lah. Setelah tanggal 3-4 nanti. Namun ternyata ada tidaknya kontrak bekerja ini penting sekali.

Kedua adalah suasana kerja yang kurang profesional. Saya pikir ketika bergabung dengan ini everything is ready. Jadi saya tinggal memaksimalkan bekerja untuk event atau community manager. Namun ternyata belum ready semua. Aplikasi dan website belum jadi, sehingga pada saat acara tanggal 3-4 Februari itu kita belum bisa promosi. Jadi membuat acara charity dan temu komunitas ini rasanya tidak sesuai target, karena tidak bisa memaksimalkan marketing.

Kita yang bekerja disana juga masih seperti bekerja serabutan. Senior saya yang bekerja dengan kontrak bukan pekerja full time hanya digaji dengan 2 juta satu bulan dengan beban kerja yang lumayan besar. Apalagi kadang-kadang kamu sering disuruh-suruh kayak buruh. Print kan ini dong, belikan ini dong, pasang ini dong. Selama bekerja saya menggunakan uang saya pribadi untuk hal-hal ini. Sehingga lebih tepat saya seperti volunteer atau buruh.

Hal ketiga adalah bos saya ini yang keras kepala. Sulit sekali diberi masukan perihal acara atau event. Padahal, yang saya inginkan adalah acara ini agar sukses. Namun pemberian masukan sangat sulit dilakukan. Bekerja di start up mungkin menyenangkan karena kamu bisa berinteraksi dengan bos setiap hari. Namun kalau kamu sudah tidak cocok dengan bos mu, atau kamu mendapatkan bos yang buruk, tamat sudah riwayatmu.

Keempat adalah saya belum berniat bekerja secara full time. Saya ingin melanjutkan studi S2 kemudian bekerja di United Nations dan memiliki usaha sendiri juga. Itu adalah mimpi saya. Bekerja di start up ini hanya sampingan, hati saya belum bisa 100%. Saya hanya ingin acara pada tanggal 3-4 Februari itu selesai dan suskes. Setelah itu, I want to do the other things. Karena mimpi saya tidak disini.

Hal yang membuat saya benar-benar keluar adalah sifat sang bos yang ternyata tidak enak diajak bekerja. Dia bahkan memangsakan partner kerja saya sebagai orang yang bersalah agar tidak membayar tagihan. Jadi pada tanggal 3-4 Februari kami sudah meminta kepada bos agar acara ada di lantai dua saja. Karena lantai satu kotor dan belum siap dipakai. Namun si bos berkata bahwa ini adalah garage sale, maka harus digarasi. Sedangkan acara ada di dua lantai makan butuh dua sound system dan dua panggung. Mau tidak mau kita harus menyewa satu lagi sound system portable untuk lantai atas.

Hari pertama acara dimulia hrausnya jam 9. Tapi kantor baru dibuka jam 8. Saya sudah disana sejak jam 7 pagi dan harus menunggu tempat acar dibuka. Tenant sudah pada datang. Kapal Api, Chick and Roll, dan macam-macam. Bahkan yang bersih-bersih sudah disana sejak jam 6 karena si bos bilang jam 6 harus bersih-bersih. Akhirnya hari pertama finish, namun harus selesai jam 3 sore karena tidak ada acara lain. Hari berikutnya pun demikian, harus dimulai jam 10 pagi dan berakhir lebih awal.

Drama dalam start up itu banyak banget. Disini, si bos menolak membayar tagihan sound system dan lain-lain karena katanya jelek dan yang disalahkan partner saya. Katanya pinjam tanpa izin perusahaan. Selain itu ada juga banyak sekali masalah yang sepertinya bisa diselesaikan seandainya sang bos sendiri tahu usaha start up ini nanti mau dibawa kemana. Mengingat banyak sekali drama yang menguras energi ini, saya memutuskan untuk menyudahi partisipasi saya. Apalagi sang bos juga sempat tanya setelah partner saya mengundurkan diri. Oke, saya keluar juga.

Hal yang bisa saya ambil dari sini adalah kalau punya ide, kerjain saja. Masa bodoh dengan hal yang lain. Do it first, think later. Sepertinya ini yang dilakukan oleh si bos saya. Namun sayang, dia lupa kalau dia berhubungan dengan banyak manusia sehingga muncul masalah dimana-mana. Teman saya yang punya Mr. Clean (usaha cleaning service di Surabaya) melakukan segalanya dia sendiri tapi tidak menyinggung orang lain. Dia memulia dari hal kecil. Mantan bos saya ini inginnya besar langsung tanpa melihat kondisi. Akibatnya, tidak bisa berhasil sesuati target.

 

Alhamdulillah I am admitted to WUR!

This is really a happy news for me. I am accepted in Wageningen University in Netherlands! 

I always wanted to do some major that resonated with my background and family. You see, both of my parents are farmer. With this Biosystems Engineering, I believe I can learn more about sustainability in farming (food), water, or energy.  Compared to my bachelor degree, I believe I can make a bigger impact with this major.

With this happy news, I also have this anxiety. Can I pay for this education myself? I am struggling with everything so I need scholarship that will help me through this education. I do really hope that I can achieve this. Wish me luck!